Pengikut

Gazebo bambu tua

 


   Siang itu langit berwarna gelap dan sesekali terdengar suara petir. "Wah, bakalan hujan deras nih." Gumam Rangga sambil menyipitkan matanya melihat ke awan. Dia rebahkan badannya dan menyilangkan tangannya sebagai bantal. Sesekali dia mendesah dan melirik jam tangannya sudah dua jam dia menunggu di gazebo. Pikirannya melayang kembali kesepuluh tahun lalu disaat pertama kalinya dia bertemu Rani. Saat itu hujan deras dengan lari tergesa dia berteduh ke gazebo dan sudah ada  seorang wanita yang duduk di situ. Namanya Rani yang asyik memainkan tetesan air hujan yang jatuh dari ujung atap ijuk ke jari tangannya. Senyumnya terlihat cantik menghias wajahnya yang putih. Itulah kali pertama Rangga merasakan jantungnya berdegup kencang. 
    
    Rani gadis periang yang sudah dikenalnya selama delapan tahun. Hingga kini ia telah berumah tangga dengan Herwin kekasihnya di bangku kuliah. Walaupun Rani menganggapnya sebatas sahabat tapi tetap mencintainya dan menyimpan cintanya dalam hati. Tiap kali Rani ingin berjumpa dengannya tempat yang dipilihnya pastilah gazebo ini. Disinilah mereka saling bertukar cerita dan tertawa. Entah apa masalahnya kali ini, Rangga menghela nafas dan memejamkan matanya. Rangga merasakan ada sesuatu yang halus masuk ke dalam telinganya. Ditepisnya telinganya dan terkejut mendengar suara tawa. 

"Ha.. ha.. ha..." Tawa Rani.

Rangga tersenyum dan merapihkan rambutnya, "Ah kau ini, lama sekali aku menunggu sampai hari hampir hujan. Ada masalah apa?" 

Air muka Rani berubah suram dan senyum manisnya menghilang. 

"Hei kenapa kau menangis, ada apa?" Rangga terkejut melihat Rani menangis. 

"Hasil tes lab ku negatif sepertinya aku belum bisa punya anak," Rani menghapus air mata yang membasahi pipinya yang putih. Rangga menghela nafasnya sudah bisa dibayangkannya pasti Rani akan kembali bertengkar dengan suaminya. Tuntutan mertuanya menginginkan keturunan membuatnya tertekan. Berbagai acara sudah mereka lakukan sampai berobat ke Penang tapi hasilnya negatif. 

"Kamu jangan patah semangat Rani, tetap harus berharap dan berdoa." Hibur Rangga. Sudah lima tahun Rani menikah baru kali ini dia melihat Rani menangis. Walaupun dia berusaha tegar tapi tetesan air matanya terus mengalir. Rangga menahan dirinya yang ingin mendekapnya. Ia lalu berdiri di depan gazebo. Dibiarkannya Rani menangis di belakang badannya. Rangga tertunduk dan menghela nafasnya. 

   ***

"Woi, ayo kita berteduh di gazebo itu," seru  Boy berlari bersama tiga kawannya menghindari hujan yang mulai jatuh. 

"Wah hari mulai gelap bagaimana ini kalau kita tidak dapat angkot, jalannya masih jauh ke depan," David terkejut tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dan hujan semakin deras. 

"Kita berteduh saja disini bila perlu menginap ya anggap aja kemping." 
"Ya, betul juga. Hari sudah gelap kita tidak bisa terus jalan." Kiki melepaskan kaca matanya yang basah. 

"Hei gazebo ini ada lampunya, coba kau tekan saklarnya," teriak Boy

"Apa kau pernah ke gazebo ini Boy," seru Anton. 

"Aku sering duduk disini pulang sekolah, anginnya sejuk dan pemandangan sawahnya juga bagus," kata Boy sambil merebahkan badannya. 

"Hei, suasana seperti ini bagusnya kita buat cerita seram nih," bisik David di kuping Kiki. 

"Ja.. jangan.. awas ya kalo ada yang cerita horor, ku tinggalkan kalian disini," teriak Kiki sambil membetulkan kaca matanya. 

"Ya sudah pergilah kalau kau berani.. haha.." David tertawa  dan menyipitkan matanya. Kiki bergeser duduk dekat Anton. 

"Apa kalian tidak pernah dengar cerita gazebo bambu tua?" Kata Boy
Mereka saling bertatapan dan David bergeser mendekati Boy. 

"Apa Boy, ayolah ceritakan." Pinta David. 

"Masyarakat disini pernah melihat hantu wanita duduk dan menangis. Mukanya tertutup rambut panjang dengan telapak tanggannya memegang tiang gazebo. Suara tangisannya terdengar menyayat hati. Tidak seorangpun yang berani melewati gazebo ini." Suara Boy terdengar pelan. 

Kuk.. kuk.. kuk.. "Hah, suara apa itu," Kiki mencengkram pundak Anton. 

"Aduh, sakit Ki, itu hanya burung hantu," 

"Oh, iya, sorry sorry," seru Kiki

"Kaki kiri wanita itu terikat rantai yang besar dan penuh luka yang darahnya menetes ke bawah gazebo. Tengah malam dia menangis pilu yang mengguncang gazebo karna dia menarik rantai di kakinya berusaha untuk lepas." 

"Kapan hantu wanita itu muncul?" Tanya David penasaran 

"Dia muncul setiap malam bulan purnama," lirih Boy.  Tiba-tiba tercium wangi bunga kamboja yang letaknya tidak jauh dari gazebo. 

"Duuaarr..." 

"Whoaa.. aaa..." teriak mereka terperanjat mendengar suara petir yang keras. Mereka saling bergeser dan mendekat, tatapan mereka ke atas langit memandang awan hitam yang bergeser menunjukkan bulatan bulan purnama diantara hujan deras. Mereka terdiam dan akhirnya tertidur. 

"Nak... bangun kenapa kalian disini." 
Mereka terbangun dengan wajah pucat dan nafas tersenggal-senggal dengan keringat membasahi badan. Mereka terkejut melihat  seorang bapak tua berjenggot dan berambut putih di tangan kanannya memegang celurit tajam berdiri di depan gazebo. 

"Ba... bapak siapa," tanya Kiki gugup

"Saya pemilik sawah depan ini," bapak itu sambil meringai menunjukkan gigi peraknya yang besar. Kiki bergeser duduk ke arah Anton yang masih mengucek-ngucek matanya. 

"Kenapa kalian tidur di sini? Kenapa wajah kalian pucat?" Tanya bapak itu. 

"A.. a.. aku mimpi aneh pak." Kata Anton

"Hah.. apakah kau mimpi wanita itu," tanya kiki terbata-bata, matanya membelalak dan menelan ludahnya. 

"Mustahil kalau mimpi kita sama," Boy menatap David yang mengangguk pelan. 
Mereka saling bertatapan dan melihat ke muka bapak tua itu yang ekspresinya berubah dinggin. 

Bapak itu memandang bunga kamboja yang banyak berjatuhan di sekitar gazebo. "Dulu ada wanita muda yang gantung diri disini karena patah hati dan beberapa hari kemudian ada neng Rani yang..." hela nafas bapak itu panjang. 

"Roh neng Rani masih terikat di gazebo ini..." lirihnya menatap pohon kamboja yang kering. 

***

      Sore itu angin berhembus pelan menerpa wajah Rangga yang memandang gazebo bambu di depannya. Tidak terasa sudah tiga tahun dia pergi melanjutkan study nya ke luar negri. Gazebo bambu terlihat semakin tua dan tidak terawat. 

"Rangga.. rangga.. kan?" Terdengar namanya di panggil. Dia melihat Siti anak pak Somad pemilik sawah depan gazebo ini. 

"Hai, apa kabar." Sapa Rangga tersenyum. 
Siti menyerahkan sepucuk surat ke Rangga, 

"Dua tahun yang lalu Rani sakit parah dan selama di rawat di Rumah Sakit ia memohon di antar ke gazebo ini. Untuk terakhir kalinya Rani ke gazebo dan dia menghembuskan nafasnya disini." Siti menghapus air matanya. 

Rangga terduduk lemas di gazebo. Pikirannya melayang kali terakhir pertemuannya dengan Rani, karena rasa marahnya melihat orang yang dicintainya tidak bahagia hatinya terluka. Dia tidak sanggup melihat kesedihan di mata Rani. Dia mulai menjauh dan itu membuat Rani menjadi semakin rapuh. 

     Tangan Rangga gemetar membuka perlahan amplop dan membaca tulisan di kertas itu. 

Rangga, Maafkan aku..
Bertahun lamanya dan kini ku terlambat menyadari rasa cinta ini. 
Terima kasih kamu telah bertahan mencintaiku. 
Maukah kau terima cintaku ini. 

     Air mata Rangga jatuh ke atas kertas yang digenggamnya kuat. "Terima kasih sudah membalas cintaku," lirih Rangga tersenyum.  Angin berhembus pelan dan menjatuhkan bunga kamboja di atas kertas surat itu. Ia melihat bayangan wajah Rani dengan senyum cerianya. 


Kolaborasi cerita horror (upload url konten)

01. Ria http://omahria.blogspot.com/2020/11/tabir-nuraini.html



02. Evi https://biruisbluish.blogspot.com/2020/11/sampaikan-salam-sayangku-i.html 



03. Iim
https://iimhappypills.blogspot.com/2020/11/misteri-aroma-melati.html


04. Widhi
https://ecchan.wordpress.com/2020/11/10/horror-mencoba-eksis/


05. Idah Ernawati 
https://terpakukilaukata.blogspot.com/2020/11/kembar.html?m=1


06. Anastasia 
https://anastasialovich.blogspot.com/2020/11/pathok.html?m=1


07. Dea
https://dee-arnetta.blogspot.com/2020/11/jangan-bermain-denganku.html?m=1

8. Imelda
https://imelcraftdiary.blogspot.com/2020/11/cerita-horor-anak-kost.html?m=1

9. Delia
https://deliaswitlof.blogspot.com/2020/11/rumah-no-1.html?m=1

10. Ira Barus
https://menjile.blogspot.com/2020/11/gazebo-bambu-tua.html?m=1

11. Mariana
https://cemplungable.blogspot.com/2020/10/penghuni-yang-tak-diundang.html

22 komentar:

  1. Ceritanya bagus. Kl boleh saran, aku agak kesulitan membaca krn jenis font-nya. Mgkn font bisa diganti agar lbh seru bacanya ya. Hugss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. iya font ketik beda sama tampilan di blog .Ok udah ku edit lagi font themenya .Makacih

      Hapus
  2. Ceritanya bagus. Kl boleh saran, aku agak kesulitan membaca krn jenis font-nya. Mgkn font bisa diganti agar lbh seru bacanya ya. Hugss

    BalasHapus
  3. Bagus mbak. Aku sih suka ceritamu. Hanya hurufnya yg rada susah dibaca, ama setting huruf di paragraf 1 jg beda ..🤗🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ma kasih. 😁 sip lah udah ku ganti font themenya lupa font ketik beda sama font theme

      Hapus
  4. Mbak Ira, boleh saran nggak? font_nya terlalu kecil dan seperti bertumpuk. Kurang nyaman untuk dibaca. Mending ganti model yang lain

    BalasHapus
  5. Hai Mbak Ira, ceritanya mengharukan..huhu..

    BalasHapus
  6. Ceritanya bagus Kak, sedih 😭
    Oh ya, di awal cerita itu ada 2 baris tulisan yang font-nya belum diganti ya?

    BalasHapus
  7. Ide ceritanya menarik menggabungkan horor dengan romance. Terasa sedih juga karena ada cerita tentang bunuh diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya ada ceritanya tapi jadi kepanjangan cetitanya jadinya di potong deh

      Hapus
  8. cerita yang menyentuh hati... tapi tulisannya agak susah dibaca mba.. semangat yaa..

    BalasHapus
  9. Pelan-pelan kubaca, Kak. idenya oke. Suka gaya ceritanya. Pasti akan lebih cantik kalau dipilih font yang lebih manis di mata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ,baru nyadar setelah di publish font nya dari theme editnya. Kalo ketiknya tetap font biasa.

      Hapus
  10. Wiiih.... cerita horor romantis! Keren...

    BalasHapus
  11. Mencoba genre horor tetep aja larinya ke genre romantis 😁 semangat coba tulis horor lainnya

    BalasHapus