Pengikut

Dilema anak remaja laki-laki ku antara otot dan identitas diri

 Saat remaja laki-laki ku tiap saat berdiri di depan cermin bertelanjang dada  



Otot dan identitas diri remaja laki-laki

Ketika bentuk tubuh dilihat tidak sempurna berubah jadi kecemasan diri

Setelah pandemi covid anakku nomor dua masuk sekolah offline kembali di SMP kelas 8 (usia 14 th). Sebelumnya di kelas 7 proses belajar dilakukan secara daring jadi di kelas inilah untuk pertamakalinya dia bertatap muka dengan teman dikenalnya di kelas online. 

Melihat perubahan sikapnya yang sering berdiri depan cermin bertelanjang dada sambil mengencangkan kedua tangannya memperlihatkan otot bisepnya dan memperhatikan otot perutnya, aku mulai bertanya alasannya dan dia menjawab, "Aku harus nge gym" 

"Kenapa?"

"Badanku harus berotot." sambil memperagakan badannya seperti binaragawan.

"Apa yang kamu dapat kalau tubuhmu sudah berotot?" tanyaku penasaran

"Kawanku bilang kalau berotot dan perutku sixpack akan terlihat bagus." Senyumnya ke arah cermin

"Apakah harus berotot?" tanyaku lagi

"Ya, berotot itu terlihat keren, badan kawanku sudah ada yang berotot, mereka buat kelompok nge gym dan aku mau bergabung juga"

Mendengar itu, ya dia sudah remaja masanya mulai memperhatikan bentuk tubuhnya untuk menjaga penampilan, mungkin ini juga salah satu syarat agar dapat diterima kawannya. 

Memasuki masa pubertas

Meningkatnya hormon testosteron berpengaruh untuk terlihat lebih keren dengan tubuh "kekar" Di depan temannya dari yang terlihat "lemah" dan sekarang jadi "kuat" membuatnya aman dari bullying

Dia tidak menyukai badannya yang terlihat gemoy alasannya sering jadi bahan ledekan kawannya. 

"Kawanku bilang tidak mau mengajakku main karena aku seperti anak-anak."

💪 Sesekali dia minta izin untuk pergi nge gym bersama kawannya. Aku berpikir ya bagus juga untuk jaga kesehatannya. Apalagi olahraga nge ngym lagi trend dikalangan remaja. 

Tiap pulang nge gym ku tanya kegiatan apa aja yang dilakukan saat nge gym. Dia jelaskan ada lari di treadmill untuk cardio, angkat barbel dan yang dia sukai adalah angkat beban. 

Apakah ada coachnya? ternyata tidak ada jadi mereka hanya latihan secara otodidak yang didapat dari konten influencer fitness di medsos. Mereka tidak mampu membayar coach karena mahal hanta cukup menjadi member club gym saja. 

Saat latihan mereka akan selfie di depan cermin besar sambil mengangkat beban dan menggugah foto atau video latihannya di medsos ini sebagai bentuk bukti ke temannya dan menunjukkan proses perubahan bentuk tubuhnya yang tadinya badan anak-anak berubah menjadi maskulin.

Ketika otot dilihat sebagai simbol maskulin 

Badan atletis dibentuk dari latihan rutin dan disiplin dianggap keren. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri (self esteem) 

💪 Ku lihat berat badannya mulai berkurang yang tadi badannya gemoy mulai kurus. Dia mulai mengurangi porsi makan dan ekspresi mukanya terlihat letih pucat. Di kelas dia mendapat teguran dari guru karena sering tertidur di kelas. Ditambah lagi dia sering mengeluh kurang sehat. 

Yang mengejutkan aku menemukan suplemen protein otot dan vitamin dalam tasnya. Dia juga terobsesi menonton konten nge gym di medsos hingga larut malam efeknya ini mengurangi waktu istirahatnya. Melihat itu ku anjurkan untuk stop dulu nge gym nya sampai tubuhnya sehat kembali. 

 
Gym dikalangan remaja

Ketika nge gym dilihat sebagai trend dikalangan remaja untuk jadi "berotot" membentuk identitas diri berubah jadi obsesi. 

"Kamu masih dalam masa pertumbuhan tidak perlu meminum suplemen yang kamu tidak tau manfaatnya." 

"Kata instruktur di tempat nge gym ini bagus buat otot remaja bisa cepat terbentuk bisep dan sixpack nya."

"Menurut mamak tidak harus karena ini terlalu memaksakan tubuhmu dengan sulap. Kamu perlu waktu bertahap untuk membentuk otot dan itu butuh satu atau dua tahun." Pelan ku jelaskan padanya

"Tapi kata kawanku ini aman dikonsumsi." 

"Tubuhmu sudah bagus untuk seusia mu, kelak dewasa boleh kamu membentuk lebih lagi ototmu. Sekarang belum waktunya biarkan otot tubuhmu terbentuk secara alami."

Aku coba berdiskusi lagi "Apa yang kamu dapat bila badanmu dipaksa berotot?"

"Ya banyak cewek yang suka dan kawanku tidak ngejek lagi lihat badanku."

" Ya betul mereka pertama kali akan lihat penampilanmu tapi lama-lama akan membosankan apalagi kalau dia lihat ada yang lebih bagus dari kamu. Ada yang lebih dihargai temanmu."

"Apa? "

"Prestasi.. Kalau kamu berprestasi mereka akan lebih di hormati dan mereka senang berteman denganmu."

"Aku kan nga pintar. Susah untuk dapat rangking. "

"Berprestasi tidak harus di akademik aja tapi bisa lewat olahraga juga. "

"Olahraga apa? Nge gym kan olahraga juga"

"Iya bukankah lebih baik dibarengi dengan olahraga lain? Lihatlah mukamu semakin pucat dan mudah lelah."

"Jadi apa? "

"Olahraga beladiri disamping bisa untuk melindungi diri mu dan bonusnya pelan-pelan membentuk ototmu kuat. Kamu bisa ikut pertandingan kalau menang kawanmu akan bangga melihatmu dan juga sertifikatnya berguna buat masa depanmu."

💪 Dia setuju dengan saranku dan mulai mengikuti olahraga beladiri karate di sekolahnya. Setahun setengah berlatih dia merasa beladiri ini tidak sesuai dengan hatinya dan beralih ke taekwondo mengikuti abangnya.  

Terkadang dia nge gym juga untuk  menguatkan otot tangan dan kakinya tapi tidak lagi memaksakan tubuh seperti sebelumnya. 

Ingatkan mereka, otot kuat harus dibarengi dengan mental yang kuat

💪 Proses perjalanannya di taekwondo tidak semudah yang dia bayangkan tapi olahraga ini yang membentuk dirinya menjadi kuat, berani dan tidak mudah patah semangat. Aku akan menceritakan perjalanannya mencari jati dirinya di "Taekwondo membentuknya jadi remaja kuat"






Usia berapa anak naik angkot sendiri

Anak sekolah dasar yang mandiri dapat naik angkot sendiri

Kemandirian anak naik angkot
Naik angkot sendiri atau bersama teman

Orang tua mana yang tidak was was melihat anaknya naik angkot sendiri dan menunggunya pulang sendiri dari sekolah naik angkutan umum (angkot). Sebagai orang tua pastinya banyak pertimbangan  untuk mengizinkan anak naik angkot sendiri. Secara pribadi aku mengajarkan anak naik angkot supaya anak lebih mandiri dan hemat dari segi keuangan. 

Usia berapa anak siap naik angkot? 

Anak-anakku di kelas 1 usia 7 th awalnya naik mini bus antar jemput sekolah. Mulai di usia 9 th ku ajarkan cara naik angkot ke sekolah. Di usia ini dari segi motorik anak sudah bergerak sempurna, mampu berjalan dan berlari dengan baik. Cara melihat atau visual anak melihat ke kanan dan ke kiri juga sudah lebih baik. Dari segi emosional anak sudah mampu mempelajari kesabaran dan kewaspadaan. Jadi di usia ini anak sudah mampu fokus dilatih untuk menilai situasi dalam mengambil keputusan sesuai dengan pengetahuan yang dia miliki.  

Naik angkot sendiri menguji kemandirian anak

  🌼 Pelajaran pertama, ku ajarin cara naik angkot dari rumah dan cara menyeberang di sekolah. Lalu pulang sekolahnya juga begitu. 

Belajar naik angkot ini berlangsung satu minggu. Jarak waktu perjalanan antara rumah dan sekolah sekitar 30 menit lancar dan 45 menit bila macet. 

Penekanan cara menyebrang ini harus betul-betul di pahami anak. Lebih aman bila menyeberang di area zebra cross. Kenyataannya zebra cross hanya ada di lintasan lampu merah saja. Untuk daerah yang tidak ada zebra cross anak harus lebih berhati-hati karena tidak ada rambu peringatan untuk penyebrangan. Disini anak belajar bila melihat mobil atau motor datang dari arah kanan bila masih jauh cukup memberi isyarat mengangkat telapak tangan tanda stop menandakan ingin menyeberang. Kenyataannya tidak semua pengendara paham akan tanda ini. Ada sebagian kendaraan tidak berhenti tapi hanya mengurangi kecepatannya dengan maksud memberikan waktu pada anak untuk menyeberang.  Ada juga kendaraan yang memberikan tanda lampu depan berkedip atau bunyi klakson yang memberitahukan kalau dia tidak dapat mengurangi kecepatan tanda inilah yang harus diwaspadai anak. Bila sudah dirasa aman anak boleh menyeberang dengan tetap memperhatikan arah mobil datang. 

 Sepeda motor yang seringkali tiba-tiba muncul dari arah belakang mobil. Disinilah dibutuhkan konsentrasi anak untuk fokus kapan waktunya untuk menyeberang dengan memperhatikan lalu lintas kendaraan.

🌼 Selanjutnya anak harus mengingat alamat rumah dan kenalkan rute sekitar rumah dan sekolah supaya anak lebih familiar. Beritahu lingkungan mana yang aman dan mana yang harus diwaspadai. Misalnya lingkungan aman yang banyak orang dan yg perlu diwaspadai lingkungan yang sepi dan tidak dikenal. Waktu dari jarak rute juga harus diingat yang biasanya lancar 45 menit dan macet sekitar 1 jam. Anak harus mengingat ada berapa simpang lampu merah yang harus dilewati. Yang paling utama adalah mengenal nama jalan, biasanya di spanduk toko atau depan kantor tertulis nama jalannya. Berani bertanya ke supir bila rute yang dilewati tidak seperti biasanya bisa di stop dan pindah ke angkot lain. 

Saat memilih angkot perhatikan warna dan nomor angkot yang harus dipilih dan bila ragu bisa bertanya langsung ke supir. 

Langkah apa yang harus anak lakukan bila merasa tidak nyaman dalam angkot. 

Dalam angkot ada berbagai macam orang yang naik bila anak merasa ada yang kurang nyaman misalnya pelecehan seksual seperti penumpang lain meletakkan tangganya ke paha anak atau menempelkan badannya ke badan anak. Ada juga penumpang yang merokok atau pencuri dll. 

Aku akan menyarankan anak untuk turun di lingkungan yang ramai seperti depan toko atau berhenti di depan perkantoran dan dia bisa mencari satpam untuk meminta bantuan. Disini aku mengingatkan ke anak bila ingin bertanya ke orang asing di jalan harus lebih berhati-hati karena tidak semua orang mengerti rute. 

Sebelum naik perhatikan penumpang yang ada dalam angkot kalau dirasa kurang nyaman lebih baik urungkan naik dengan beri alasan yg tepat seperti "maaf bang aku salah angkot"

🌼 Berapa ongkos yang harus dibayarkan sampai tujuan? Umumnya ongkos anak sekolah lebih murah dibandingkan penumpang umum, tapi ada juga supir yang meminta ongkos anak disamakan dengan dewasa untuk itu berikan ongkos lebih ke anak buat jaga-jaga. Lebih baik berikan uang pecahan. Jangan main HP dan mengeluarkan dompet. Uang ongkos angkot secukupnya di taruh di saku. Peluk tas untuk menghindari pelecehan seksual. 

Naik angkot bersama abang 

🌼 Perhatikan posisi duduk, bila memungkinkan usahakan duduk di depan atau belakang supir. Ada juga supir memaksakan untuk naik dan duduk di dekat pintu angkot hal ini berbahaya untuk anak. Bila penuh penumpang tidak ada tempat duduk lebih baik turun menunggu angkot berikutnya. Bila lihat ada orang yang mencurigakan bukalah jendela kaca lebar untuk memudahkan teriak minta bantuan. Atau posisi duduk jangan menyandar dan badan condong ke depan, sambil melihat ke depan. Ini untuk memanipulasi orang yang melihat seakan kita sudah dekat dengan tujuan. 

Usahakan jangan tertidur tetap siaga, bila mengantuk coba alihkan dengan kegiatan mengurut jari tangan, makan permen atau bernyanyi. 

🌼 Bila tidak lewat nomor angkot yang biasa, dapat berikan alternatif nomor angkot lain yang bisa didapatkan di jalan tertentu. 

Anak sulung ku pernah mengalami kesalahan saat naik angkot, dia melihat warna sama tapi tidak perhatikan nomornya. Dia mulai curiga saat lihat rute yang berbeda dari biasanya. Dia mulai bertanya ke supir. Untungnya supirnya mencarikan dia angkot kearah rumah. Anak  bungsu ku juga pernah tertidur di angkot dan terbangun lewat 3 km dari rumah dan dia memilih berhenti dan naik angkot yang berlawanan arah untuk pulang. 

Naik angkot setiap hari akan terbiasa dan mengajarkan mereka lebih waspada dan mandiri. ***


Jeritan malam




 Waktu itu tahun 1989 ada kegiatan pramuka karena aku sudah kelas 6 jadi ikut acara kemah pramuka selama 2 hari  malam. Sekolah ku berada dekat pantai panjang kota bengkulu. Di dekat sekolah itulah kami berkemah. Acara dari pagi sampai sore begitu seru dan menyenangkan mulai dari membangun kemah kelompok, membereskan peralatan masak dan baju, membuat tiang bendera kelompok dll. 


Setelah makan malam kami istirahat dan diingatkan jam 11 ada jeritan malam. Rutenya tidak terlalu panjang sekitar 2 km  melewati rumah warga depan pantai dan ada 3 pos yang harus dilewati. Setiap pos akan ada penjaganya. 


Tiba waktunya jam 11 kami mempersiapkan diri. Dua anak akan jalan terlebih dulu dan peraturannya tali sepatunya yang kanan diikatkan ke sepatu kiri kawannya. Untuk membantu berjalan tangan merangkul ke bahu kawan. Maksudnya untuk saling menjaga. Setelah mereka tidak terlihat kemudian dilanjutkan

giliranku, aku mulai mengikatkan tali sepatuku ke sepatu sahabat ku. Kami mulai merangkul. Beberapa kali kami terjatuh dan tertawa mencoba saling menyamakan langkah dan di pos pertama kami dikejutkan dengan tawa melengking tapi tidak ada siapa-siapa. 


Kami mulai terdiam dan mempercepat langkah. Sambil berjalan sahabatku mencoba mulai bercerita yang tidak jelas menurutku. Aku tau diapun merasakan ada sesuatu. Kami coba pelan berjalan walaupun jalannya aspal tapi lampu jalannya redup. Ditambah lagi terdengar angin pantai yang menerpa daun cemara. Sesekali ku dengar suara ombak pecah. Ya, ada yang memperhatikan dan mengikuti kami di belakang tapi tidak terdengar langkahnya. 

Sahabatku melirik ku dan mencengkeram bahuku, "cepat kita jalannya"

Tanpa aba-aba aku mempercepat langkahku sampai nafas kami terdengar kuat. Keringat mulai keluar deras bajuku terasa dingin diterpa angin malam pantai. 


Sampailah di pos ke dua di situ kami lihat kosong dan terdengar tangisan anak kecil. Aku berkata "oh itu pasti kakak pembina yang coba menakuti" Deru ombak makin terdengar keras dan angin malam makin terasa kencang dinginnya. Ku lihat bulan mulai tertutup awan hitam dan lampu jalan di depan terlihat cahayanya berkedip membuat bayangan pucuk pohon cemara seperti menari. Sesekali terdengar suara burung malam. 


"Uhuk..uhuk..Uhuk.., " Terdengar suara orang batuk dan kami menoleh ke arah bunyi tersebut ada rumah kayu kecil gelap hanya sinar lampu jalan yang ada jadi kami tidak dapat melihat siapa itu. 

"Uhuk.. Uhuk.. " Kembali terdengar, 

kami saling berpandangan dan mempercepat langkah. Sesekali kami hampir terjatuh. 


"Aaaaa... " Terkejutnya kami mendengar jerit dua orang berlari dari belakang kami. 

"Hei ada apa!" Teriak sahabatku

"Haannnttuuuu.... Aaaaaa" 

"Aapppaaa.. Hantu!" Kami pun ikut berlari mengikuti mereka. Tiba-tiba salah satu mereka melepaskan sepatunya dan berlari kencang meninggalkan kawannya. 

Kami tetap merangkul kuat sambil berlari kencang dengan tubuh gemetar. 


Tiba-tiba kami merasakan ada yang merangkul kami dari belakang. 

"Waaaa... Ampunn.. " Teriak kami takut

"Woi mau kemana kalian," Mendengar suara itu kami menoleh ternyata kakak pembina

"Uuwwaaa.. " Kami menangis sambil berpelukan dengan hati yang kacau.


Esok paginya setelah sarapan kami berbagi cerita pengalaman jeritan malam. Mendengar cerita kawan-kawan berbeda dengan pengalaman kami. 


Terkejutnya kami saat di beritahu kalau pos 1 hanya mengeluarkan "Huuu.. Huu.. " Meniru suara angin. 

Pos ke 2 mengibarkan kain putih lebar meniru bayangan bendera. 

Pos ke 3 ada kakak pembina yang menunggu. 


Aku menoleh ke arah sahabatku "Apa semalam kita salah dengar? Ada suara ketawa, tangisan dan batuk?" Bisikku

Sahabatku mengangkat tangan bertanya, "Di pos pertama kami mendengar orang tertawa, pos kedua ada suara anak kecil menangis lalu ada rumah kayu terdengar suara orang batuk. "

"Bukan kami dan rumah kayu yang gelap itu sudah lama kosong." 


Semua kawanku mulai ribut, "Kak, kami tidak mendengar suara huuu..huuu."

"Iihh..semalam kami lari kencang karena ada yang mengikuti dari belakang, sepatuku sampai ku lepas, takut aku ditangkap." 

"Kami juga lihat ada bayangan yang terbang berkali-kali di depan kami sampai kami lepaskan sepatu.. "

Suasana makin ribut karena semua berlomba ingin berbagi cerita yang berbeda. Kakak pembina mulai menenangkan semuanya. 


Di sekolah ku dengar berita terjadi pembunuhan satu keluarga dekat sekolah. Kejadiannya sebelum kami mengadakan acara kemah dan pembunuhnya belum tertangkap. 

Aku dan sahabatku saling berpandangan... ***



Korban bully di SD



Anak ke dua ku laki-laki dari kelas 3 sampai kelas 5 SD sering di bully baik secara verbal diteriakin bodoh dan banci atau dibully secara fisik seperti di dorong atau di tampar. 

Awalnya aku merasa curiga melihat tingkahnya yang lebih banyak diam saat di tanya "Bagaimana hari ini di sekolah"

 "Biasa aja," Jawabnya datar

Tidak seperti abangnya yang masih mau main ke luar rumah, dia lebih memilih nonton TV seharian atau asik bermain lego sendiri.  Aku coba bertanya siapa kawan dekatnya. Dia berpikir sejenak dan menjawab nama dua orang aja yang lain dia tidk ingat. Alasannya karena tidak begitu dekat. 

Sampai akhirnya dia bercerita kalau gurunya memberikan hukuman pukul di punggungnya pakai penggaris kayu karena tidak mengerjakan tugas di sekolah. 

"Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas?" Tanyaku pelan

"Kawanku mengambil buku teks  ku, gimana aku bisa kerjakan tugas." Jawabnya

"Kenapa kamu kasih pinjam."

"Nga ada kukasih dia ambil paksa, katanya awas kalau lapor. Mau di tinjunya aku, " Jawabnya sambil menunduk.

Esoknya ku coba datang ke sekolah dan bertanya ke gurunya dan tanggapannya "Kalau salah tetap salah tidak ada alasannya."

Baiklah kalau begitu responnya aku menasehati anakku untuk merampas kembali bukunya kalau kawannya ambil. Karena itu hak dia untuk mempertahankan barangnya. 

 Beberapa hari kemudian aku lihat setiap pulang sekolah baju putihnya kotor. 

"Bajumu kenapa selalu kotor apa kamu main berguling-guling di lapangan?" Setauku lantai lapangan sekolahnya lantai semen kasar. 

"Entahlah kawanku marah dia dorong aku ke dinding yang kotor dan menarikku ke kanan kiri dinding."

"Kawanmu bilang apa? "

"Katanya aku cemen nga asik diajak main." Sambil membuat gerakan tangan menepis kepalanya sendiri. 

"Kenapa kamu tidak suka main sama mereka?"

"Main bolanya kasar kalau kalah mereka marahnya ke aku, ya aku nga mau lagi main."

Lanjutnya, "Aku nga mau seperti ada kawanku dipaksa main bola dan perutnya ditendang, kan itu pasti sakit." Mendengar itu aku berpikir walaupun anak sudah menolak tapi bully itu tetap dilakukan. 

Esoknya aku coba lagi diskusi ke gurunya dan jawabannya, "Ya biasa namanya anak laki harus berani melawan dong." 

"Maksud ibu anakku boleh melawan secara fisik juga?"

"Ya, kenapa tidak kalau diam aja lain hari mereka bisa lebih kasar lagi."

"Apakah itu bisa menyelesaikan masalah bu?"

"Yah, kalau tidak dicoba mana kita tau."

"Kalau anakku kalah gimana? Kan jumlah mereka lebih dari satu."

"Yah kita akan panggil dan hukum lalu berikan disiplin."

Dalam hatiku, wah apa harus nunggu jatuh korban dulu baru bertindak? Ini nga betul, 

aku memutuskan untuk membentuk mentalnya tanpa bantuan gurunya. 

Ku coba menenangkan anakku dan memberikan saran "kamu hindari kawan yang suka bully tapi kalau harus perlu di lawan ya lawan aja jangan takut tidak apa kalau mamak nanti dipanggil guru." Dan dia mengangguk setuju. 

Seminggu dua minggu tidak ku dengar keluhannya aku pun jadi penasaran, "Gimana apa masih ada yang bully?"

"Yah ada tapi nga parah kalilah."

"Nga parah kali gimana?" Tanyaku penasaran

"Kalau mereka mengejekku ku diamkan aja, kalau diajak main bola bilang aja mo eek ke toilet."

"Trus.. "

"Ya masuk dulu ke toilet trus intip kalau mereka nga ada ya kaburlah aku."

"Lah kalau mereka nunggu gimana?"

"Ku bilang aja aku nga cebok tanganku masih bauk eek."

"Trus bukumu apa ada diambil mereka?"

"Dia nga berani lagi ambil bukuku karna aku nga sengaja ingus ku jatuhke buku." Dengar itu aku menahan tawa. 

"Bagus.. Kamu hebat. " Sambil memberikan 👍🏻👍🏻👍🏻

Di kelas 6 dia tidak kena bully lagi karena sekolah diliburkan adanya pandemi covid. Lanjut cerita dia masuk SMP ya ***

Beladiri untuk remaja

 


Sebagai seorang ibu yang memiliki anak remaja laki pastinya khawatir melihat banyaknya kenakalan remaja saat ini seperti tawuran, gank motor, narkoba, judol dll. Untuk mengantisipasi itu aku menawarkan kepada anak sulungku di kelas 10 untuk ikut olahraga beladiri taekwondo. Kami coba daftar di club atau disebut dojang. 

Ketika dia masuk SMA ternyata ada ekskul taekwondo jadi dia pilih ekskulnya ini. Seminggu tiga kali berlatih di dojang dan sekali seminggu latihan di sekolah. Pelatihnya yaitu sabeum di sekolah menawarkan dia ikut pertandingan. 

Pertama kali bertanding dia mendapatkan medali perak dan ini buat dia sedih sampai menangis karena mengingat letihnya latihan rutin tiga bulan, dan bapaknya memeluknya kami berikan dia kata-kata semangat. Dia minta pulang dan untuk menghiburnya kami makan mie aceh kesukaannya. Sampai di rumah kami di telp sabeumnya ternyata juri salah hitung skor, seharusnya dia dapat medali emas jadi sabeumnya meminta dia kembali ke gor untuk tukar medali. Karena jarak dari rumah ke gor jauh dan sudah terlalu malam akhirnya dia iklaskan. Hatinya tenang dan merasa bangga. 

Ada 5 pertandingan dia coba ikuti untuk mewakili sekolah. Ternyata tidak semua pertandingan memberikan sertifikat yang berguna buat pendidikannya ke depan. Setelah mencari informasi dia pilih pindah dojang yang pelatihnya seorang master dan mantan atlet nasional. Dari beliau kami belajar cara memilih pertandingan yang bermanfaat untuk pendidikan anak ke depan. Ini juga karena pertimbangan kami melihat tiap pertandingan biayanya cukup mahal. Jadi lebih baik mengikuti pertandingan yang diselenggarakan pihak-pihak tertentu seperti kemenpora, dispora, koni pusat dan puspresnas. Ada skor tertentu untuk pertandingan tingkat kabupaten, propinsi, nasional dan internasional. 

Biaya yang kami keluarkan selama anak latihan kalau dihitung cukup besar. Mulai dari biaya bulanan latihan dojangnya, biaya ujian kenaikan tingkat (UKT) per 4 bulan, biaya alat perlindungan badan, biaya ongkos ke dojang dan biaya pertandingan. Untuk pertandingan biasanya satu atau dua kali setahun. Ini bisa di dalam kota atau di luar propinsi. 

Cidera dalam pertandingan tidak terhindar. Dia pernah pingsan karena lawan menendang alat vital. Pernah pergelangan kaki terkilir dan pergelangan tangan memar. Walaupun begitu semangatnya tetap ingin mencoba pertandingan lainnya. Sampai dia lulus SMA ada sembilan pertandingan dia ikuti dan salah satunya tingkat internasional. 

Melalui taekwondo ini membentuk rasa percaya dirinya dan dia bisa menahan dirinya dengan menolak secara halus ketika ada kawan yang mengajaknya gabung dalam genk motor. Dan menolak tawaran teman untuk merokok dan bergabung dalam kelompok kumpul main game online di cafe sampai tengah malam. Menurutnya pertimba kesehatan badan lebih utama, dia tidak mau jerih payahnya latihan hancur oleh sebatang rokok dan bergadang yang tidak jelas. Walaupun dia dibenci kawannya itu tapi perinsipnya masih ada kawan lain. 

Beladiri ini bukan sekedar hanya buat jaga diri aja tapi melatihnya untuk mencari solusi saat ada bahaya. Saat ada genk motor memprovokasi depan sekolahnya dia mengajak kawannya yang diluar gerbang untuk masuk ke gedung sekolah. 

Sekarang dia memasuki dunia perkuliahan dan kecintaannya dengan olahraga taekwondo tetap dia jalani. Apalagi dia pernah dipercayakan pelatihnya menjadi coach di pertandingan. Tujuannya ke depan disamping kuliah dia tetap berlatih untuk pertandingan sekali setahun dan dia juga ingin menjadi pelatih. Good luck my son***


Bungkusan berisi 7 paku hitam

 

Di tahun 1990 malam itu hujan deras membuatku sedikit mengantuk tapi ada serial TV yang selalu ingin ku tonton. Ya serial "friday the 13th" tiap episode selalu beda cerita dan ini yang membuatku penasaran ingin menontonnya walaupun ini film horor yang selalu tayang malam jumat jam 11 di TVRI. Sayangnya rasa kantuk ini terlalu kuat membuatku menyerah kembali ke kamar untuk tidur. 

Aku terbangun mendengar suara anjing melonglong melengking saling bersahutan. Ku lihat jam dinding menunjukkan jam duabelas tepat. 

"Duk.. Duk.. Duk." Terdengar tujuh kali bunyi benturan di pintu ruang tamu lalu menghilang. Entah apa itu tapi mataku sudah mengantuk. Tiba-tiba lampu di rumah kedap kedip ku pikir ini pasti karena lagi hujan. Cepat-cepat ku tarik selimut karena udara mulai terasa dingin dan aku tertidur. 

Paginya aku terbangun karena terdengar suara seseorang memanggil orang tuaku, ku lihat dari jendela di depan pagar seorang satpam terlihat pucat dengan nafas terengah-engah mencoba menenangkan dirinya. Orang tuaku mempersilahkan bapak satpam itu duduk dan menenangkan dirinya. 

"Semalam ada keris berapi jatuh dari atas tiang bendera lalu berputar-putar depan pintu kaca kantor.. " Cerita pak satpam sambil meremas tangannya. 

"Hah.. Apakah bunyinya tujuh kali?" Kataku 

"Ya, kok bisa tau? Apakah kerisnya lari ke sini? Ah engga mungkin aku lihat sendiri keris itu setelah mengetuk langsung pecah mengeluarkan kobaran api dan melemparkan banyak paku besar." Tentu saja bapak satpam dapat melihat dengan jelas dari dalam karena pintu kantor semua terbuat dari kaca lebar. 

"Menurut adat jawa tadi malam itu terhitung malam jumat kliwon bulan purnama penuh seharusnya diberi sesajen dibawah tiang bendera." Ujarnya sambil menunjuk ke arah kalender yang ada di dinding. 

"Jadi bagaimana pak " Tanya orang tuaku

"Saya sudah tanya pak kiayi katanya kita harus siram bunga tujuh rupa disekitar tiang bendera dan depan gedung kantor." 

"Baiklah kalau gitu bapak siapkan aja semua," Seru orang tuaku. 

Aku masih merasa penasaran dengan bunyi yang ku dengar semalam. 

"Maaf Pak jam berapa ya tadi malam kejadiannya." Tanyaku penasaran. 

"Tepat tengah malam jam duabelas pas."

Hm.. Aku mulai berpikir apakah yang ku dengar semalam adalah bunyi pintu kaca kantor itu? Tetapi jarak antara rumahku dengan kantor sekitar 300 mtr. 

Aku kembali ke kamar dan ku liht ada bungkusan kertas tulis di meja. Setauku semalan aku tidak ada meletakkan kertas itu, karena ku pikir itu sampah maka ku ambil dan ketika mau ku buang ke tempat sampah. Tanganku merasa ada sesuatu dalam bungkusan kertas itu. Ku buka bungkusannya dan terkejutnya aku isinya tujuh paku panjang warna hitamhitam ***




Kejang anakku datang lagi

 


Setelah 3 kali anakku terserang steup dalam 2 bln aku mulai mencari dokter anak lain. Awalnya aku konsultasi ke 2 dokter spesialis anak dekat rumah tapi setelah 3 kali ke situ aku merasa kurang setuju dengan pengobatannya. Aku mulai cari lagi dokter spesialis lain sebagai perbandingan. 

Saat jalan-jalan kulihat ada praktek dokter anak, beliau sudah tua dan tempat praktek nya ku lihat sepi tapi aku beranikan diri untuk konsultasi. 

Aku ternyata jawaban yang kudapat membuatku terkejut. Dokter lain menganjurkan anakku di opname tapi beliau dengan santai mengatakan "Steup bisa karna keturunan dan berhenti sebelum usia 2 th. Dan setelah di usut ternyata dari keluarga ku ada riwayat steup dan suamiku juga pernah steup jadi beliau mengatakan tidak bisa dihindari tapi hadapilah dengan lapang dada. Karena faktor genetik jadi tidak harus tunggu demam tinggi 40 terkadang demam 38 saja udah bisa steup."

Beliau juga mengajarkan cara tindakan darurat menghadapi anak steup, cara mengunakan kompres yang betul dan cara memberikan obat anak yang betul. Yang paling berkesan adalah nasehat beliau " Jangan takut hadapi anak steup karna obat yang mujarab adalah emosi dari ibunya. Klo ibu tenang, anak akan merasakan energi positif ibu dan dia akan semangat untuk sadar. Jangan dengarkan kata-kata negatif dari orang lain. Jangan samakan medis dengan mitos, imun orang dulu beda sama jaman sekarang."

Memberikan cairan seperti kopi saat anak steup  kalau masuk ke saluran pernapasan bisa berbahaya bisa henti nafas. Dan kalau memberikan gagang sendok ke mulut bayi ini bisa merusak rahang bayi. Atau menyumpal mulut bayi dengan kain ini menghambat jalur nafas bayi. 

Tak dipungkiri setiap steup ada ratusan jaringan di otak akan rusak tapi karna anak masih dalam tahap pertumbuhan masih bisa diperbaiki. Mulai dijaga pola makannya yang dianjurkan anak makan sea food dan multivitamin untuk imunnya. 

Ternyata betul perkiraan beliau anakku memasuki usia 2 th tidak steup lagi. Jadi saat usia nya memasuki 1 th terhitung 6 kali terulang steupnya dengan gejala ringan di 2 steup terakhirnya.

Banyak orang yang mengatakan anakku besarnya akan idiot. Tapi tidak dengan doaku mengharapkan kesehatan dan kesuksessan anakku. Saat remaja dia bisa masuk SMP dan SMA favorit melalui jalur tes. Dan sekarang dia kuliah dikampus UNJ melalui snbt. Disamping itu anakku juga atlet taekwondo di SMA meraih 4 emas, 3 perak dan 1 perunggu. 



Almarhum kakek datang menyapaku

 


Saat itu usiaku 9 th dan kami baru tiba dari jakarta. Tiga hari perjalanan dari jakarta ke kampung bapak di tanah karo sumatera Utara untuk mengikuti acara penguburan nenek. Tradisi disini peti jenazah disemayamkan di rumah almarhum dan tutup petinya terbuka untuk memberikan kesempatan pada saudara dan tetangga untuk penghormatan terakhir. 

Setelah makan malam mataku terasa berat dan memilih tidur di satu kamar. Ada seorang kakek mendatangi ku sambil tersenyum dan memegang tanganku lalu mengajakku berbincang yang tidak bisa ku dengar suaranya. Lama kami duduk mengobrol dan kakek menasehatiku. Saat aku terbangun aku mencoba mengingat apa  yg dibicarakan tapi tetap aku tidk ingat.

Paginya aku terbangun dan duduk di samping peti nenek. Ku perhatikan sekitar ruangan belum banyak tamu yang datang. Disamping peti nenek ada lemari buku besar dan di atasnya ada satu bingkai foto seorang kakek yang tidak ku kenal tapi aku mulai berpikir sepertinya aku pernah jumpa kakek ini tapi dimana ya. Karna penasaran aku bertanya ke saudara yang datang melayat. 

"Beliau kakek mu, ya pantas aja kamu tidak mengenalnya karena beliau meninggal di tahun dan bulan yang sama dengan kelahiranmu"

Mendengar itu badanku terasa lemas dan mukaku pucat. Bukankah kakek ini yang semalam datang dan mengobrol bersamaku dalam mimpi. Inilah mimpi pertama yang kuingat bertemu seorang yang belum pernah ku jumpai di dunia nyata.