Waktu itu tahun 1989 ada kegiatan pramuka karena aku sudah kelas 6 jadi ikut acara kemah pramuka selama 2 hari malam. Sekolah ku berada dekat pantai panjang kota bengkulu. Di dekat sekolah itulah kami berkemah. Acara dari pagi sampai sore begitu seru dan menyenangkan mulai dari membangun kemah kelompok, membereskan peralatan masak dan baju, membuat tiang bendera kelompok dll.
Setelah makan malam kami istirahat dan diingatkan jam 11 ada jeritan malam. Rutenya tidak terlalu panjang sekitar 2 km melewati rumah warga depan pantai dan ada 3 pos yang harus dilewati. Setiap pos akan ada penjaganya.
Tiba waktunya jam 11 kami mempersiapkan diri. Dua anak akan jalan terlebih dulu dan peraturannya tali sepatunya yang kanan diikatkan ke sepatu kiri kawannya. Untuk membantu berjalan tangan merangkul ke bahu kawan. Maksudnya untuk saling menjaga. Setelah mereka tidak terlihat kemudian dilanjutkan
giliranku, aku mulai mengikatkan tali sepatuku ke sepatu sahabat ku. Kami mulai merangkul. Beberapa kali kami terjatuh dan tertawa mencoba saling menyamakan langkah dan di pos pertama kami dikejutkan dengan tawa melengking tapi tidak ada siapa-siapa.
Kami mulai terdiam dan mempercepat langkah. Sambil berjalan sahabatku mencoba mulai bercerita yang tidak jelas menurutku. Aku tau diapun merasakan ada sesuatu. Kami coba pelan berjalan walaupun jalannya aspal tapi lampu jalannya redup. Ditambah lagi terdengar angin pantai yang menerpa daun cemara. Sesekali ku dengar suara ombak pecah. Ya, ada yang memperhatikan dan mengikuti kami di belakang tapi tidak terdengar langkahnya.
Sahabatku melirik ku dan mencengkeram bahuku, "cepat kita jalannya"
Tanpa aba-aba aku mempercepat langkahku sampai nafas kami terdengar kuat. Keringat mulai keluar deras bajuku terasa dingin diterpa angin malam pantai.
Sampailah di pos ke dua di situ kami lihat kosong dan terdengar tangisan anak kecil. Aku berkata "oh itu pasti kakak pembina yang coba menakuti" Deru ombak makin terdengar keras dan angin malam makin terasa kencang dinginnya. Ku lihat bulan mulai tertutup awan hitam dan lampu jalan di depan terlihat cahayanya berkedip membuat bayangan pucuk pohon cemara seperti menari. Sesekali terdengar suara burung malam.
"Uhuk..uhuk..Uhuk.., " Terdengar suara orang batuk dan kami menoleh ke arah bunyi tersebut ada rumah kayu kecil gelap hanya sinar lampu jalan yang ada jadi kami tidak dapat melihat siapa itu.
"Uhuk.. Uhuk.. " Kembali terdengar,
kami saling berpandangan dan mempercepat langkah. Sesekali kami hampir terjatuh.
"Aaaaa... " Terkejutnya kami mendengar jerit dua orang berlari dari belakang kami.
"Hei ada apa!" Teriak sahabatku
"Haannnttuuuu.... Aaaaaa"
"Aapppaaa.. Hantu!" Kami pun ikut berlari mengikuti mereka. Tiba-tiba salah satu mereka melepaskan sepatunya dan berlari kencang meninggalkan kawannya.
Kami tetap merangkul kuat sambil berlari kencang dengan tubuh gemetar.
Tiba-tiba kami merasakan ada yang merangkul kami dari belakang.
"Waaaa... Ampunn.. " Teriak kami takut
"Woi mau kemana kalian," Mendengar suara itu kami menoleh ternyata kakak pembina
"Uuwwaaa.. " Kami menangis sambil berpelukan dengan hati yang kacau.
Esok paginya setelah sarapan kami berbagi cerita pengalaman jeritan malam. Mendengar cerita kawan-kawan berbeda dengan pengalaman kami.
Terkejutnya kami saat di beritahu kalau pos 1 hanya mengeluarkan "Huuu.. Huu.. " Meniru suara angin.
Pos ke 2 mengibarkan kain putih lebar meniru bayangan bendera.
Pos ke 3 ada kakak pembina yang menunggu.
Aku menoleh ke arah sahabatku "Apa semalam kita salah dengar? Ada suara ketawa, tangisan dan batuk?" Bisikku
Sahabatku mengangkat tangan bertanya, "Di pos pertama kami mendengar orang tertawa, pos kedua ada suara anak kecil menangis lalu ada rumah kayu terdengar suara orang batuk. "
"Bukan kami dan rumah kayu yang gelap itu sudah lama kosong."
Semua kawanku mulai ribut, "Kak, kami tidak mendengar suara huuu..huuu."
"Iihh..semalam kami lari kencang karena ada yang mengikuti dari belakang, sepatuku sampai ku lepas, takut aku ditangkap."
"Kami juga lihat ada bayangan yang terbang berkali-kali di depan kami sampai kami lepaskan sepatu.. "
Suasana makin ribut karena semua berlomba ingin berbagi cerita yang berbeda. Kakak pembina mulai menenangkan semuanya.
Di sekolah ku dengar berita terjadi pembunuhan satu keluarga dekat sekolah. Kejadiannya sebelum kami mengadakan acara kemah dan pembunuhnya belum tertangkap.
Aku dan sahabatku saling berpandangan... ***






