Pengikut

Korban bully di SD



Anak ke dua ku laki-laki dari kelas 3 sampai kelas 5 SD sering di bully baik secara verbal diteriakin bodoh dan banci atau dibully secara fisik seperti di dorong atau di tampar. 

Awalnya aku merasa curiga melihat tingkahnya yang lebih banyak diam saat di tanya "Bagaimana hari ini di sekolah"

 "Biasa aja," Jawabnya datar

Tidak seperti abangnya yang masih mau main ke luar rumah, dia lebih memilih nonton TV seharian atau asik bermain lego sendiri.  Aku coba bertanya siapa kawan dekatnya. Dia berpikir sejenak dan menjawab nama dua orang aja yang lain dia tidk ingat. Alasannya karena tidak begitu dekat. 

Sampai akhirnya dia bercerita kalau gurunya memberikan hukuman pukul di punggungnya pakai penggaris kayu karena tidak mengerjakan tugas di sekolah. 

"Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas?" Tanyaku pelan

"Kawanku mengambil buku teks  ku, gimana aku bisa kerjakan tugas." Jawabnya

"Kenapa kamu kasih pinjam."

"Nga ada kukasih dia ambil paksa, katanya awas kalau lapor. Mau di tinjunya aku, " Jawabnya sambil menunduk.

Esoknya ku coba datang ke sekolah dan bertanya ke gurunya dan tanggapannya "Kalau salah tetap salah tidak ada alasannya."

Baiklah kalau begitu responnya aku menasehati anakku untuk merampas kembali bukunya kalau kawannya ambil. Karena itu hak dia untuk mempertahankan barangnya. 

 Beberapa hari kemudian aku lihat setiap pulang sekolah baju putihnya kotor. 

"Bajumu kenapa selalu kotor apa kamu main berguling-guling di lapangan?" Setauku lantai lapangan sekolahnya lantai semen kasar. 

"Entahlah kawanku marah dia dorong aku ke dinding yang kotor dan menarikku ke kanan kiri dinding."

"Kawanmu bilang apa? "

"Katanya aku cemen nga asik diajak main." Sambil membuat gerakan tangan menepis kepalanya sendiri. 

"Kenapa kamu tidak suka main sama mereka?"

"Main bolanya kasar kalau kalah mereka marahnya ke aku, ya aku nga mau lagi main."

Lanjutnya, "Aku nga mau seperti ada kawanku dipaksa main bola dan perutnya ditendang, kan itu pasti sakit." Mendengar itu aku berpikir walaupun anak sudah menolak tapi bully itu tetap dilakukan. 

Esoknya aku coba lagi diskusi ke gurunya dan jawabannya, "Ya biasa namanya anak laki harus berani melawan dong." 

"Maksud ibu anakku boleh melawan secara fisik juga?"

"Ya, kenapa tidak kalau diam aja lain hari mereka bisa lebih kasar lagi."

"Apakah itu bisa menyelesaikan masalah bu?"

"Yah, kalau tidak dicoba mana kita tau."

"Kalau anakku kalah gimana? Kan jumlah mereka lebih dari satu."

"Yah kita akan panggil dan hukum lalu berikan disiplin."

Dalam hatiku, wah apa harus nunggu jatuh korban dulu baru bertindak? Ini nga betul, 

aku memutuskan untuk membentuk mentalnya tanpa bantuan gurunya. 

Ku coba menenangkan anakku dan memberikan saran "kamu hindari kawan yang suka bully tapi kalau harus perlu di lawan ya lawan aja jangan takut tidak apa kalau mamak nanti dipanggil guru." Dan dia mengangguk setuju. 

Seminggu dua minggu tidak ku dengar keluhannya aku pun jadi penasaran, "Gimana apa masih ada yang bully?"

"Yah ada tapi nga parah kalilah."

"Nga parah kali gimana?" Tanyaku penasaran

"Kalau mereka mengejekku ku diamkan aja, kalau diajak main bola bilang aja mo eek ke toilet."

"Trus.. "

"Ya masuk dulu ke toilet trus intip kalau mereka nga ada ya kaburlah aku."

"Lah kalau mereka nunggu gimana?"

"Ku bilang aja aku nga cebok tanganku masih bauk eek."

"Trus bukumu apa ada diambil mereka?"

"Dia nga berani lagi ambil bukuku karna aku nga sengaja ingus ku jatuhke buku." Dengar itu aku menahan tawa. 

"Bagus.. Kamu hebat. " Sambil memberikan 👍🏻👍🏻👍🏻

Di kelas 6 dia tidak kena bully lagi karena sekolah diliburkan adanya pandemi covid. Lanjut cerita dia masuk SMP ya ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar