Saat remaja laki-laki ku tiap saat berdiri di depan cermin bertelanjang dada
Ketika bentuk tubuh dilihat tidak sempurna berubah jadi kecemasan diri
Setelah pandemi covid anakku nomor dua masuk sekolah offline kembali di SMP kelas 8 (usia 14 th). Sebelumnya di kelas 7 proses belajar dilakukan secara daring jadi di kelas inilah untuk pertamakalinya dia bertatap muka dengan teman dikenalnya di kelas online.
Melihat perubahan sikapnya yang sering berdiri depan cermin bertelanjang dada sambil mengencangkan kedua tangannya memperlihatkan otot bisepnya dan memperhatikan otot perutnya, aku mulai bertanya alasannya dan dia menjawab, "Aku harus nge gym"
"Kenapa?"
"Badanku harus berotot." sambil memperagakan badannya seperti binaragawan.
"Apa yang kamu dapat kalau tubuhmu sudah berotot?" tanyaku penasaran
"Kawanku bilang kalau berotot dan perutku sixpack akan terlihat bagus." Senyumnya ke arah cermin
"Apakah harus berotot?" tanyaku lagi
"Ya, berotot itu terlihat keren, badan kawanku sudah ada yang berotot, mereka buat kelompok nge gym dan aku mau bergabung juga"
Mendengar itu, ya dia sudah remaja masanya mulai memperhatikan bentuk tubuhnya untuk menjaga penampilan, mungkin ini juga salah satu syarat agar dapat diterima kawannya.
![]() |
| Memasuki masa pubertas |
Meningkatnya hormon testosteron berpengaruh untuk terlihat lebih keren dengan tubuh "kekar" Di depan temannya dari yang terlihat "lemah" dan sekarang jadi "kuat" membuatnya aman dari bullying
Dia tidak menyukai badannya yang terlihat gemoy alasannya sering jadi bahan ledekan kawannya.
"Kawanku bilang tidak mau mengajakku main karena aku seperti anak-anak."
💪 Sesekali dia minta izin untuk pergi nge gym bersama kawannya. Aku berpikir ya bagus juga untuk jaga kesehatannya. Apalagi olahraga nge ngym lagi trend dikalangan remaja.
Tiap pulang nge gym ku tanya kegiatan apa aja yang dilakukan saat nge gym. Dia jelaskan ada lari di treadmill untuk cardio, angkat barbel dan yang dia sukai adalah angkat beban.
Apakah ada coachnya? ternyata tidak ada jadi mereka hanya latihan secara otodidak yang didapat dari konten influencer fitness di medsos. Mereka tidak mampu membayar coach karena mahal hanta cukup menjadi member club gym saja.
Saat latihan mereka akan selfie di depan cermin besar sambil mengangkat beban dan menggugah foto atau video latihannya di medsos ini sebagai bentuk bukti ke temannya dan menunjukkan proses perubahan bentuk tubuhnya yang tadinya badan anak-anak berubah menjadi maskulin.
Ketika otot dilihat sebagai simbol maskulin
Badan atletis dibentuk dari latihan rutin dan disiplin dianggap keren. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri (self esteem)
💪 Ku lihat berat badannya mulai berkurang yang tadi badannya gemoy mulai kurus. Dia mulai mengurangi porsi makan dan ekspresi mukanya terlihat letih pucat. Di kelas dia mendapat teguran dari guru karena sering tertidur di kelas. Ditambah lagi dia sering mengeluh kurang sehat.
Yang mengejutkan aku menemukan suplemen protein otot dan vitamin dalam tasnya. Dia juga terobsesi menonton konten nge gym di medsos hingga larut malam efeknya ini mengurangi waktu istirahatnya. Melihat itu ku anjurkan untuk stop dulu nge gym nya sampai tubuhnya sehat kembali.
![]() |
| Gym dikalangan remaja |
Ketika nge gym dilihat sebagai trend dikalangan remaja untuk jadi "berotot" membentuk identitas diri berubah jadi obsesi.
"Kamu masih dalam masa pertumbuhan tidak perlu meminum suplemen yang kamu tidak tau manfaatnya."
"Kata instruktur di tempat nge gym ini bagus buat otot remaja bisa cepat terbentuk bisep dan sixpack nya."
"Menurut mamak tidak harus karena ini terlalu memaksakan tubuhmu dengan sulap. Kamu perlu waktu bertahap untuk membentuk otot dan itu butuh satu atau dua tahun." Pelan ku jelaskan padanya
"Tapi kata kawanku ini aman dikonsumsi."
"Tubuhmu sudah bagus untuk seusia mu, kelak dewasa boleh kamu membentuk lebih lagi ototmu. Sekarang belum waktunya biarkan otot tubuhmu terbentuk secara alami."
Aku coba berdiskusi lagi "Apa yang kamu dapat bila badanmu dipaksa berotot?"
"Ya banyak cewek yang suka dan kawanku tidak ngejek lagi lihat badanku."
" Ya betul mereka pertama kali akan lihat penampilanmu tapi lama-lama akan membosankan apalagi kalau dia lihat ada yang lebih bagus dari kamu. Ada yang lebih dihargai temanmu."
"Apa? "
"Prestasi.. Kalau kamu berprestasi mereka akan lebih di hormati dan mereka senang berteman denganmu."
"Aku kan nga pintar. Susah untuk dapat rangking. "
"Berprestasi tidak harus di akademik aja tapi bisa lewat olahraga juga. "
"Olahraga apa? Nge gym kan olahraga juga"
"Iya bukankah lebih baik dibarengi dengan olahraga lain? Lihatlah mukamu semakin pucat dan mudah lelah."
"Jadi apa? "
"Olahraga beladiri disamping bisa untuk melindungi diri mu dan bonusnya pelan-pelan membentuk ototmu kuat. Kamu bisa ikut pertandingan kalau menang kawanmu akan bangga melihatmu dan juga sertifikatnya berguna buat masa depanmu."
💪 Dia setuju dengan saranku dan mulai mengikuti olahraga beladiri karate di sekolahnya. Setahun setengah berlatih dia merasa beladiri ini tidak sesuai dengan hatinya dan beralih ke taekwondo mengikuti abangnya.
Terkadang dia nge gym juga untuk menguatkan otot tangan dan kakinya tapi tidak lagi memaksakan tubuh seperti sebelumnya.
Ingatkan mereka, otot kuat harus dibarengi dengan mental yang kuat
💪 Proses perjalanannya di taekwondo tidak semudah yang dia bayangkan tapi olahraga ini yang membentuk dirinya menjadi kuat, berani dan tidak mudah patah semangat. Aku akan menceritakan perjalanannya mencari jati dirinya di "Taekwondo membentuknya jadi remaja kuat"


